Menelisik Pura Gede Pulaki Atau Puncak Manik Yang Disebut Pura Pulaki

 


LINTANG TRANGGANA
Sejarah Pura Gede Pulaki memang tak bisa dijeiaskan secara rinci. Namun dari berbagai potongan data yang tertinggal, sejarah pura itu setidaknya bisa dirunut dari zaman prasejarah. Pura yang berlokasi Buleleng Barat ini, terletak di Desa Banyupoh Kecamatan Gerokgak, Buleleng, sekitar 53 kilometer di sebelah barat kota Singaraja. Ketua Kelompok Pengkajian Budaya Bali Utara Drs. I Gusti Ketut Simba mengatakan, jika mengacu pada sistem kepercayaan yang umum berlaku di Nusantara, sejak zaman prasejarah gunung senantiasa dianggap tempat suci dan dijadikan stana para dewa dan tempat suci para roh nenek moyang maka diperkirakan Pura Gede Pulaki sudah berdiri sejak zaman prasejarah. Hal ini merunut pada konsep pemujaan Dewa Gunung, yang merupakan satu ciri masyarakat prasejarah. Sebagai sarana tempat pemujaan biasanya dibuat tempat pemujaan berundak-undak. Semakin tinggi undakannya, maka nilai kesuciannya semakin tinggi.

Di kawasan Pura Gede Pulaki, di sekitar Pura Melanting, sekitar 1987 ditemukan beberapa alat perkakas yang dibuat dari batu, antara lain berbentuk batu picisan, berbentuk kapak dan alat-alat lain. Berdasar hal itu, dan dilihat dari tata letak dan struktur pura, maka dapat diduga latar belakang pendirian Pura Gede Pulaki awalnya berkaitan dengan sarana pemujaan masyarakat prasejarah yang berbentuk bangunan berundak.

Di sisi lain, dilihat dari letak Pura Gede Pulaki yang terletak di Teluk dan memiliki banyak sumber mata air tawar. Didalam babad disebutkan ada peristiwa penyerangan Bali oleh Majapahit tahun 1343 Masehi. Dalam buku ekspedisi Gajah Mada ke Bali yang disusun Ketut Ginarsa tertulis bahwa pasukan Gajah Mada turun di Jembrana lalu berbaris menuju desa-desa pedalaman, seperti Pegametan, Pulaki dan Wangaya. Pulaki juga pernah dijadikan pusat pengembangan ajaran Bhujangga di sekitar 1380 Masehi seperti tertera dalam buku ”Bhuwana Tatwa Maharesi Markandeya” susunan Ketut Ginarsa.

Data lain tentang Pulaki adalah ditemukannya potongan candi yang bentuknya seperti candi yang ada di Kerajaan Kediri. Ditemukan di Pura Belatungan tahun 1987. Dari data itu, maka kesimpulannya keberadaan Pura Gede Pulaki sebagai suatu tempat suci sudah ada sejak zaman prasejarah. Pura Gede Pulaki masih tetap sebagai tempat pemujaan, baik yang dilaksanakan orang prasejarah, orang Baliaga dan Rsi Markandeya dan orang-orang pengikut Tri Sakti dengan sebutan Tri Maha Lingga sebagai simbol bunga teratai yang berwarna merah, hitam dan putih.

Masyarakat Desa Kalisada dan beberapa desa di sekitarnya masih tetap setia ngaturang bhakti kepada Batara di Pulaki dengan naik perahu dari Kalisada. Tahun 1920 Pulaki mulai dibuka yang ditandai dengan disewakannya tempat ini oleh pemerintah kolonial Belanda kepada orang Cina bernama Ang Tek What. Kawasan itu kemudian dikembalikan sekitar tahun 1950 yang selanjutnya dilakukan pemugaran-pemugaran terhadap tempat suci di kawasan itu. Pemugaran Pura Gede Pulaki dan Prasanaknya dilakukan setelah tahun 1950. Pura Prasanaknya seperti: Pura Dalem Melanting, Pura Belatungan, Pura Pegaluhan, Pura Pabean, Pura Kerta Kawat, Pura Taman, Pura Tedung Jagat,  Pura Gunung Gondol, Pura Pasar Agung dan Pura Pemuteran. Semua pura tersebut berhubungan dengan Pura Gede Pulaki dan berada di sekitar pura tersebut. Pura-pura tersebut adalah satu kesatuan dengan Pura pulaki secara rohani, yang tidak terpisahkan.

Pura Gede Pulaki disungsung oleh 14 subak di sekitar Pulaki, di empon 42 desa adat warga desa pakraman se-Kecamatan Seririt dan Gerokgak, tepatnya yang berdiam dari sebelah timur Cekik (Jembrana) dan sebelah barat Tukad Saba. Upacara piodalan Pada Purnama Sasih Kapat di Pura Gede Pulaki, keesokan harinya di Pura Melanting, hari kedua di Kerta Kawat, panglong ping tiga puncak piodalan di Pemuteran, dan seterusnya berakhir di Pura Pabean. (5B)


Comments