Menelisik Pura Tuluk Biyu, Gunung Batur Kintamani
LINTANG TRANGGANA – Pura Tuluk Biyu adalah Pura Kahyangan Jagat. Artinya Pura ini merupakan Pura untuk pemujaan umum bagi umat Hindu. Siapa saja umat Hindu di Bali maupun di luar Bali boleh saja melakukan pemujaan di Pura Tuluk Biyu ini. Pura Tuluk Biyu ini di duga didirikan pada jaman pemerintahan Raja Udayana. Salah satu prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Udayana berangka tahun 933 Saka, ada yang menyatakan suatu daerah yang disebut ” Karaman iwingkan ranu Air Hawang ”, yang mungkin maksudnya ada suatu Desa (karaman) di wingkang danu di Gunung Abang. Dalam prasasti Jaya Pangus berangka tahun 1103 Saka ada menyebutkan nama raja ”Paduka Sri Maha Raja Haji Jaya Pangus Arkaja. Juga ada menyatakan Bhatara Tuluk Biyu dan Desa Erabang. Disamping itu juga ada menyatakan adanya penyelesaian persengketaan atau kekacauan dalam pemerintahan dan masyarakat.

Dalam prasasti Raja Wijayarajasa dengan angka Tahun Saka 1306 upacara atau hari raya keagamaan di Herabang. Disamping itu pernyataan prasasti Air Hawang dengan angka tahun Saka 933 yang menyatakan adanya upacara Dewasraya untuk Sang Hyang Wukir Kulit Biyu.
Disamping adanya data-data prasasti tersebut ada juga cerita rakyat yang diterima turun-temurun tentang adanya keadaan bumu Bali yang kacau sehingga Bhatara Siwa sebagai Sang Hyang Giri Natha mengutus Bhatara Narada turun ke bumi membawa Tirtha Banyu Geger ini di bawa dengan menggunakan kulit pisang mas dengan di potong dua. Isi pisang emas itu dikeluarkan terus dijadikan tempat Tirtha Banyu Geger tersebut. Untuk memercikan Tirtha kulit pisang emas itu diganti dengan menggunakan bambu kuning. Setelah Tirtha Banyu Geger itu dipercikan pada tempat-tempat yang bermasalah keadaan Gumi Bali menjadi tentram dan Jagat Hita dan rakyat hidup sejahtera lahir batin. Penyampaian Tirtha Banyu Geger itulah sebagai puncak Upacara Madewasraya untuk mengingatkan umat Hindu agar senantiasa melakukan upaya kehidupan yang bernilai keagamaan yang bertujuan untuk mencapai Madewasraya atau penyerahan diri dengan dasar yadnya dan bhakti untuk mendapatkan perlindungan Tuhan.
Dalam rangka itulah didirikan Pura Tuluk Biyu di Kintamani sebagai media pemujaan Bhatara Siwa sebagai Sang Hyang Giri Natha atau Parwataswara beserta dengan Dewi Uma Parwati sebagai Dewi Giri Putri. Jadi Pura Tuluk Biyu tersebut sebagai sarana suci untuk mengingatkan umat Hindu terutama di Bali agar senantiasa melaksanakan yadnya dan bhakti pada Ida Bhatara Giri Natha di Gunung Abang dengan konsep Madewasraya. Dari pelaksanaan Madewasraya yang baik, benar dan tepat di Pura Tuluk Biyu itu umat akan memperoleh Tirtha suci Banyu Geger. Tirtha ini adalah simbol sakral yang wajib diyakini kesucian dan manfaatnya bagi pengembangan kehidupan yang dinamis tetapi tetap harmonis mewujudkan kehidupan yang aman dan sejahtera lahir dan batin.
Dalam Rotal Kasuma Dewa yang berpetikannya sebagai berikut : “…sira Mpu kuturan, ingaranan sire mpu rajakerta, mahyunta angawe parhyangan kabeh, bhatara ring besakih, bathara ring batumadeg, bathara ring batumanyeneng, bathara ring pintu aji, bathara ring kadaton, bathara, bathara ring Tuluk Biyu, ….”
Kalau dibandingkan dengan pengungkapan tamtram prasasti, keras druwen Ida Bathara di Tuluk Biyu, yang terdiri dari 21lembar prasasti tembaga itu , yang oleh R. Goris disebut Batur, Pura Abang. A (goris no 305,) tarihk pendirian Pura Tuluk Biyu dan pengungkapkan raja mengungkapkan raja pada saat itu mengungkapkan titik temu.isi pokok Tantra Prasasti di Pura Tuluk Biyu tersebut adalah :
- Bertarik 933 Saka (1011 M)
- Menyebut abhiseka raja, Paduka Sri Dharmamdayana Warmadewa
- Menggunakan bahasa dan huruf Jawa Kuno (kawi)
- Menyebut daerah, karaman-1 wingkang daru air hawang, (desa pinggir danau di Air Hawang )
- Menguraikan masalah pemeliharaan kuda (tongkalik kuda) dan menyebut penjabat tinggi urusan kuda engan pangkal rakyanasba, bernama Dyan Manjak, (rahkyan, renkayana dalam bahasaJawa baru, asba:kuda).
- Menyebut nama abhiseka (Bathara Kulitbiyu)
Menyebut kembali titik temu ripta prasasti , Rontal Kusuma Dewa dengan Tamtra Prasasti , prasasti Air Hawang dalam konseptualnya tarik dibangunnya Pura Tuluk Biyu secara formal semasih Di Desa Air Hawang di pinggir bagian timur Danau Batur, dalam kajian Desa analisis kedua sumber yang diperlukan tersebut sangat jelas sekali. Jelas Pura Tuluk Biyu dulu, sebelum pindah dan dibangun kembali pada tahun 1926 di Desa Adat Batur Kalangannya(sekarang), dibangun sekitar abad ke XI. Termasuk yang memegang hegomoni pada waktu itu adalah Paduka Sri Dharmmodayana Warmadewa. Yang sangat penting lagi, selaras dengan perkembangan agama hindu di era sekarang terutama oleh para generasi muda dan kalangan intelektual pada umumnya, yang selalu ingin tahu, istadewata (prabhawa), Hyang Widhi di pura , dipura Teluk Biyu, (Pura Teluk Kanginan) yang bersthana (Parahyangan) adalah Bhatara Kulit Biyu. Disini juga terdapat Prasasti kedua , yakni prasasti Er Hawang, yang oleh R. Goris disebut Batur , Pura Abang B, (Goris No. 605) yang isisnya:
- Bertarik 1103 Saka (1181 M).
- Menyebutkan abhiseka raja Paduka Sri Maharaja Haji Jayapangus Arkajachina……..
- Menggunakan bahasa Jawa Kuna (Aksara).
- Menyebut nama desa er Abang.
- Menyebut nama bathara-bathari Pura Teluk Biyu.
- Berisi penyelesaian dari pertikaian yang timbul antara penduduk-penduduk desa Er Abang dengan pemerintah sang-admak akmitan-apigajih.
Desa Air Hawang pada waktu itu sangat penting, karena selalu mendapat perhatian dari raja-raja dynasti warmadewa yang memang memegang hegomoni di Balipulinamandala. Isi pokok prasasti Er Abang, yang bertarik 1103 saka (1181 M), bahwa dalam kurun waktu 170 tahun telah terjadi beberapa perubahan nama antara lain Desa Air Hawang, menjadi Desa Er Abang. Abhiseka Bathata Kulit Biyu, menjadi Bathari Teluk Biyu.
Di Pura Tuluk Biyu, masih banyak disimpan benda-benda arkeologi yang sangat berharga, antara lain arca porselin (keramik) dari Tiongkok,berwujud seekor binatang ghaib, yang merupai seekor singa,yang menggunakan Glasur berwarna-warni yang sangat indah,yang di duga berasal dari zaman Kerajaan Ming, disekitar abad XIV Masehi. Yang amat istimewa dari temuan arkeologi Barja Uter ini, adalah besarnya, sehingga gaungnya pada waktu dibunyikan dengan menangkap gema ghanta yang sedang diguncang, kedengaran dengan jelas dan sangat memukau, serta memiliki kekhasan tersendiri.
untuk mengetahui kedudukan, fungsi dan status Pura Tuluk Biyu sejak dulu dan sekarang, adalah drue tamra prasasti yang berjumlah 21 lembar, di samping arca emas Ardhanareswari, Bhatara-Bhatari Tuluk Biyu, yang sebenarnya adalah arca perwujudan Dewa Siwa dan Parwati Dewi, seperti temuan arca emas di Gemuruh, Wonosobo, di situs arkeologi, kawasan gunung Adi Hyang di Jawa Tengah. Dengan mengambil banding sebagai sumber acuan kajian dan analisis dari beberapa ripta prasasti di Bali, akhirnya dapat dikemukakan Pura Teluk Biyu, sejak dulu, sejak berlokasi di Desa Air Hawang, adalah berkedudukan dan berfungsi dan berstatus sebagai khayangan jagat. (5B)



Comments
Post a Comment