Mengenal Dan Memahami Makna Ritus Tumpek Kandang

 


LINTANG TRANGGANA - Tumpek Uye jatuh pada hari Sabtu Kliwon, Wuku Uye, yaitu setiap 6 bulan Bali atau 210 hari kalender atau menggunakan Rah Candra sebagai perhitungan hari kelahiran dari “Rerainan” di Bali yang disebut juga Tumpek Kandang
Secara umum perayaan Tumpek Uye/Tumpek Kandang itu mengandung makna bahwa umat hendaknya mengembangkan kasih sayang kepada semua makhluk ciptaan-Nya dan pada saat rerainan Tumpek Kandang adalah pemujaan kepada Tuhan dalam manisfestasinya sebagai Sang Hyang Rare Angon.
Dalam Lontar Sundarigama dinyatakan " Uye, Saniscara Kliwon, Tumpek Kandang, nga, prakerti ring sarwa pasu, sato, mina, paksi, mwang patik wnang, widhi wedananya, suci daksina, pras, penek, ajuman, soda prani putih kuning, canang lenga wangi burat wangi, penyeneng, pesucian, astawakna ring sanggar mangarcana ring Sang Hyang Rare Angon.
Kunang pengaci ring sarwa pasu patik wnang, yadian kebo, aswa, sampi, hasti, widhi wedananya, tumpeng, sesayut 1, penyeneng, reresik, jerimpen, canang raka, ayabin.
Yan bawi iwa, anaman blakot, ring bawi kakung, blayag, pesor, segawon.
Yan sarwa paksi, ayam, titiran, itik, angsa, puter, salwiring anaman paksi, anaman sidhapurna, kupat bagya, kupat pandawa duluring penyeneng, tetebus, kembang pahes.
Kalinganya, rikang wang wnang mamarid ring Sang Hyang Rare Angon, twi tatwa yan ing manusa, ikang paksi sato mina ring raganta kapratyaksaknanta, apan raganta walungan ing sarira twi tatwanya Sang Hyang Rare Angon, sira umawak uttama ning sariranta”
Kembali ke pemahaman tumpek bahwa rerainan “Tumpek” adalah rerainan atau upacara yang bersifat “Nyurud Ayu” artinya upacara yang dilakukan semestinya dilaksanakan pada saat tumpek di pusatkan di Sanggah atau Merajan (“astawakna ring sanggar”, sangat jelas)
Maknanya juga sangat jelas dalam kutipan teks Lontar Sundarigama di atas bahwa manusia diperkenankan memohon sisa persembahan kepada Sang Hyang Rare Angon, sesuai kodratnya sebagai manusia itu sendiri, bahwa unggas (berkaki dua), binatang berkaki empat dan ikan bisa di cari di dalam diri manusia karena raga manusia di bangun oleh tulang belulang (wewalungan) yang pada hakikatnya adalah manifestasi Sang Hyang Rare Angon yang menjelma dalam diri manusia.
Ritus dari Tumpek Kandang adalah sebagai berikut, setelah proses upacara yang dilakukan di Sanggah atau di Merajan selesai sampai proses nyurud, baru dilaksanakan di masing masing peliharaan yang kita punya diantaranya;
Kalau peliharaan kita binatang berkaki empat antara lain kebo, kuda, sapi, gajah dan ikan maka di buatkan tambahan upakaranya yang terdiri dari, tumpeng, sesayut 1, penyeneng, reresik, jerimpen, canang raka.
Ada hal yang khusus upakaranya di perlakukan terhadap binatang peliharaan Babi antara lain kalau babi jantan tambahanya adalah ketipat blakot sedangkan babi betina adalah blayag, pesor, segawon.
Sedangkan peliharan binatang unggas, seperti ayam, bebek, burung titiran dan burung kicau tambahan upakaranya sebagai berikut segala macam ketupat burung, ketupat sidhapurna, ketupat bagya, ketupat pandawa, penyeneng, tetebus, kembang pahes.
Perayaan Tumpek Kandang bukanlah prosesi ritual untuk menyembah hewan, dan pertanyaanya mengapa membuat upacara seperti hal tersebut di atas?
Rasa syukur kepada Tuhan Maha Pencipta dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Rare angon atas ciptaanya yang oleh masyarakat di Bali diperingati dengan Rerainan Tumpek Uye atau Tumpek Kandang, dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa kasih sayang kepada semua binatang, khususnya binatang ternak atau peliharaan sehingga atas usaha manusia bisa memanfaatkan jasa-jasa dari hewan / binatang baik yang dinikmati langsung maupun yang dikerjakan sebagai pekerja.
Untuk itu bentuk rasa syukur dalam ritus tumpek yang yang mempunyai makna pemberkatan (nyurud ayu) “Sarining Merta” untuk menciptakan keharmonisan alam semesta dengan semua makhluk hidup yang diamanatkan dalam ajaran Tri Hita Karana.
Dalam konteks ekonomi, ritus tumpek kandang itu mengamanatkan sektor pertanian dalam arti luas (peternakan) bisa dikembangkan untuk memperkuat sendi-sendi perekonomian masyarakat, artinya rerainan tumpek kandang hendaknya dijadikan tonggak untuk melestarikan semua jenis hewan, masyarakat mesti mengembangkan kasih sayang kepada semua makhluk sebab hewan sangat berguna bagi kehidupan manusia, misalnya sapi atau kerbau bagi para petani memiliki peran yang sangat besar dalam membantu aktivitas pertanianya juga memiliki nilai ekonomis yang tinggi.
Selain dipakai membajak sawah, sapi juga membantu petani untuk meningkatkan kesejahteraan, harga jualnya cukup menggiurkan, sehingga bisa dijadikan modal oleh petani untuk meningkatkan pendidikan bagi putra-putrinya dan membiayai keperluan hidup yang lain, demikian pula ternak yang lain seperti babi, kambing, ayam, itik dan juga ikan.
Bahkan, babi bagi masyarakat Bali sering dijadikan semacam tabungan atau celengan, ketika masyarakat Bali menyelenggarakan hajatan, babi tersebut dipotong atau jika kepepet uang, ternak yang sering disebut ubuhan tatakan banyu tersebut bisa dijual.
Tetapi, khusus hewan-hewan yang lain, terutama satwa langka, masyarakat mestinya melestarikan dengan sungguh-sungguh untuk menjaga keseimbangan atau keharmonisan alam semesta seperti yang diamanatkan oleh ajaran leluhur, seperti penyu hijau, burung jalak Bali, menjangan, kera dan sebagainya.
Hewan-hewan tersebut di atas mesti dijaga juga agar tidak sampai mengalami kepunahan karena hewan-hewan tersebut akan di gunakan di dalam upakara dan ritus di Bali di samping itu semua makhluk diyakini memiliki jiwa yang berasal dari Ida Sang Hyang Widhi.
Dikatakannya, dalam Sarasamuscaya ada disebutkan “Ayuwa tan masih ring sarwa prani, apan prani ngaran prana” yang artinya jangan tidak sayang kepada binatang, karena binatang atau makhluk adalah kekuatan alam.
Semoga semua mahluk hidup di berikan kemulyaan dan kedamaian, klungkung semarapura, kirang langkung nunas sinampura. rahayu mulyaning jagad

Comments