Tumpek Kuningan
LINTANG TRANGGANA - Dumugi Bhetara Hyang Guru mapaica kerahayuan ring Jagat Bali lan Nusantara, tabik pekulun
Sebelum membahas tentang Wuku Kuningan ada baiknya kami kutip teks Lontar Sundari Gama yang memuat tentang “Rerainan” yang di jadikan dasar melaksanakan upacara di Bali, antara lain;
……. “Redite Wage, nga, Pamaridan Guru, ya Ulihan, nga, pakenanya, mantukakna watek dewata kabeh maring swarga kahyangan, sangksepanya, dewa lungha atinggalaken amreta mwang kadirghayusan, widhi widananya anaman, canang raka, wangi-angi, patirtha gocara
Soma Kliwon, Pemacekan Agung, nga, sandekalanya pasuguh agung ring dengen, manyambleh ayam sumulung, pakenanya, ngunduraken sarwa bhuta kala kabeh, sang bhuta galungan tkeng wadwanira kabeh
Buda Pahing Kuningan, pujawalin Bhatara Wisnu, widhi widananya, sedah ingapon putih ijo 28, tumpeng ireng, iwak ayam cemeng saha duluranya, astawakana ring pahibon, dulurana puspa sakramanya.
Sukra Wage Kuningan, panampan kuningan sama lawan panampan galungan, gaweakna sopacara ning kuningan mwang pegengen poh ajnana nirmala suksme
Saniscara Kliwon Kuningan tumurun mwah wateki dewata kabeh mwang Sang Dewa Pitara, asuci laksana, neher amukti banten, widhi widananya sega sulanggi, tebog saha raka den asangkep, pasucen, canang wangi-wangi saha runtutanya, ngawe gagantungan tamyang caniga, ring tretepa ning sarwa wawangunan, haywa muja banten kalangkahan jejeg Sang Hyang Aditya esuk juga pujanen, apan ri sampunya tajeg Sang Hyang Surya watek dewata kabeh mur ring Suralaya
Mwah hana acin manusa janma, sesayut, prayascita lwih, peneknya jenar, iwak itik putih, penyeneng tetebus, pakenanya ngening-ngeningakan citta Nirmala, tan pegat ing samadhi, wehakna pasuguh ring natar pasuguh agung, 1”……….
Rahayu, setelah kita melihat teks Lontar Sundari Gama tersebut diatas bisa kita lihat perbedaan antara “Wuku Kuningan dan Tumpek Kuningan” bahwa di wuku kuningan adalah akhir dari prosesi Galungan yang berakhir pada hari minggu wage wuku kuningan, yang di sebut dengan Ulihan Galungan yang artinya Galungan dan Tumpek Kuningan sesungguhnya tidak ada kaitannya seperti yang sering kita dengar di tengah masyarakat bahwa hari raya Galungan dan Kuningan adalah hari raya kemenangan darma melawan adharma, ampura kami tidak ada maksud menyalahkan pemahaman yang mengaitkan tentang makna hari raya yang dimaksudkan diatas, tapi sebagai sebuah ajaran tentang moralitas akan sangat baik juga kalau galungan dan kuningan di jadikan bahan renungan untuk kebaikan kita bersama atau masyarakat Bali.
Sebagai sebuah perspektif dari sebuah ajaran BAKTI dimana landasan cara berpikir kita harus menggunakan cara pandang berdasarkan “Tatwa, Susila dan Upacara” maka kita harus melihat lebih dalam lagi bahwa yang sering di bahas oleh para cendikiawan kita di Bali selama ini adalah “upacara” dari masyarakat Bali saja, yang pada akhirnya upacara yang dilaksanakan di Bali tidak terhindar dari sebuah tafsir yang menyebabkan “Susila dan Tatwa” `tidak lagi di pahami dengan baik dan benar dalam konteks Tatwa, Susila dan Upacara GAMA Bali.
Kalau dilihat dari Tatwa yang ada di Nusantara khususnya di Bali yang masih menjalankan tradisi leluhurnya yang di sebut dengan RERAINAN maka yang paling penting kita harus dipahami adalah tentang tiga kelompok hari raya yang dilaksanakan di Bali, antara lain kelompok Galungan, kelompok Pegorsi dan kelompok Tumpek, artinya makna RERAINAN menjadi penting sekali harus di pahami karena rerainan ini akan berbeda SESANAnya dalam melaksanakannya, hal ini dapat kita lihat dari masyarakat Bali tidak seragam melaksanakan upacaranya.
Contoh di wuku Kuningan ada beberapa upacara yang mesti dilaksanakan dalam satu wuku dan rangkaian Galungan sebetulnya hanya sampai di hari minggu wage wuku kuningan maka hari senin kliwon wuku Kuningan yang di sebut dengan Pemacekan Agung sesungguhnya adalah kelompok “Tumpek” dan karena keterbatasan kita memahami petunjuk sastra atau belum tersosialisaikan dengan baik ke masyarakat, maka kita hanya tahu bahwa di wuku kuningan adalah Tumpek Kuningan atau Kuningan adalah rangkaian dari Galungan.
Kembali ke isi teks, dan kami tidak akan bahas hari minggu wuku kuningan karena ini merupakan rangkaian dari Galungan tapi sekarang kita akan bahas tentang RERAINAN yang menjadi satu kesatuan Tumpek Kuningan;
Pertama kita akan mulai dari rerainan “Pemacekan Agung”, yang bisa kita lihat dari petunjuk teks Lontar Sundari Gama di atas adalah NYAMBLEH di lebuh Umah, Jero maupun Griya, Kenapa? Dan siapa yang melakukan penyamblehan?, untuk bisa memahami ini lebih jelas kita harus mengerti tentang tiga kelompok reraian yang ada di Bali yaitu Galungan, Pegorsi dan Tumpek yang di landasi dari Tatwa Gama Bali sehingga SESANA kita sebagai pewaris RERAINAN menjadi jelas (ampura kami akan bahas khusus)
Kembali kenapa kita nyambleh di lebuh pada saat Pemacekan Agung? karena pada saat Wuku Kuningan kita akan melaksanakan PEMENDAKAN Ida Bhetara dan pada saat ini juga dilaksanakan upacara PENYAMBUTAN bagi anak-anak yang belum lepas giginya dan siapa yang melakukan penyamblehan?, ini tergantung siapa yang mempunyai sesana menjadi Pengempon “Ida Bhetara Wisesa” di samping itu dapat di lihat dari Desa atau Gumi yang melaksanaka Upacara Pemendakan dengan RITUSnya ngiring Ida Bhetara lunga ke Pura pada saat Pemendakan Kuningan.
Ida Bhetara tedun di saat Wuku Kuningan inilah kenapa masyarakat Bali melakukan penyamblehan dan penyambutan bagi anak-anak yang belum “ketus” giginya (“yang manumadi belum menjadi manusa dan masih menjadi leluhur kita”)
Buda Pahing, bukan rerainan yang terkait Tumpek niki kami akan bahas khusus karena terkait dengan rerainan yang berhubungan dengan “Bhuana Agung”
Sukra Wage Kuningan adalah PENAMPAN Kuningan bukan “PE-NAMPAH-AN” jadi Penampan Galungan dan Penampan Kuningan menjadi bias maknanya karena di anggap sebagai ritus “motong babi” sesungguhnya Penampan Galungan maupun Penampan Kuningan adalah ritus dari “pengempon” Sanggah, Merajan maupun Pura melakukan kegiatan memasang lamak sampian, ngisi caratan coblong ngebatang tikeh dan lain2 yang terkait persiapan dari upacara yang di lakukan pada saat Kuningan ataupun Galungan (perhatikan isi lontar gegelaran pemangku yang termuat di lontar Sang Kul Putih, I Dukun Sakti dan Kesuma Dewa di situlah etika Pemangku dalam melaksanakan “penampan”) dan kemungkinan karena pada saat Galungan dikarenakan ada ritus “Penyamblehan Babi” maka di anggap ritus ini sebagai ritus nampah babi.
Ampura bedakan ritus Nyambleh Babi dan nampah babi karena nampah bukan RITUS.
Puncak dari RITUS TUMPEK KUNINGAN adalah Saniscara Kliwon Kuningan, kami tidak akan membahas makna upakara yang di persembahkan dan uparengga yang di pasang atau di pakai pada saat tumpek kuningan tapi kami akan bahas tentang RITUS yang paling penting saat tumpek kuningan yang hampir sebagian besar masyarakat Bali tidak lagi melaksanakan upacara ini, Kenapa? karena ritus inilah yang paling penting dilaksanakan karena merupakan esensi dari Tumpek Kuningan yaitu NYURUD AYU yaitu sebuah proses turunnya berkah dari Ida Bhetaya Hyang Guru melalui “Natab Sesayut” yang kita persembahkan,
Kembali perhatikan kutipan teks di bawah ini;
……..”Mwah hana acin manusa janma, sesayut, prayascita lwih, peneknya jenar, iwak itik putih, penyeneng tetebus, pakenanya ngening-ngeningakan citta Nirmala, tan pegat ing samadhi, wehakna pasuguh ring natar pasuguh agung, 1”……….
TUMPEK adalah turunya berkat dari Ida Bhetara Hyang Guru untuk itu pada saat Tumpek Kuningan kita melaksanakan membuat Upakara khusus di Bale dan Segehan Agung di Natah Umah, Jero maupun Griya yang akan kita Tatab, di samping itu ada perbedaan khusus dalam penyuciannya menggunakan Prayascita Agung dan Segehan Agung ini menandakan betapa pentingnya pelaksaan Tumpek Kuningan dari Tumpek lainnya, pada saat ini Leluhur kita akan memberikan berkat “Sarining Merta” maka sesayut dalam kutipan teks tidak di sebut nama sesayutnya karena permohonan dari masing-masing masyarakat pasti berbeda-beda, maka kalau kita akan memohon materi maka sesayut yang kita buat adalah sesayut “merta rauh” kalau kita memohon kesehatan maka kita menghaturkan sesayut “lara melaradan” dan lainya.
Contoh ritus lainya bisa kita lihat di daerah Tabanan tentang ritus Tumpek yaitu tradisi yang melempar uang ke atas dan akan di pungut ramai-ramai oleh anak-anak, sesungguhnya ini adalah tradisi Tumpek (turunya berkat) yang di buat “sekala” oleh masyarakat yang membuktikan bahwa Rerainan Tumpek Kuningan adalah turunnya berkat dari Luluhur masyarakat Bali
Hal yang sering menjadi pertanyaan kenapa pada saat Tumpek Kuningan kita tidak boleh “mebanten” lewat dari tengah hari, teks di bawah ini adalah landasanya kenapa kita tidak boleh mebanten lewat tengah hari, kalau ingin memahami lebih dalam lagi maka pelajari lontar Wariga Gemet sebagai dasar tentang Reraian yang terdokumentasi di dalam lontar Sundari Gama;
……..”haywa muja banten kalangkahan jejeg Sang Hyang Aditya esuk juga pujanen, apan ri sampunya tajeg Sang Hyang Surya watek dewata kabeh mur ring Suralaya”………..
Semoga saat Tumpek Kuningan ini, Ida Bhetara Hyang Guru Memberikan Berkatnya untuk kita semua dan Masyarakat Nusantara dan terhindar dari Grubug Agung yang terjadi di Nusantara, Tabik Pekulun.
Inilah pakem sebagai landasan dasar rerainan Tumpek Kuningan dibali. Jika tidak ditemukan secara fakta real dilapangan, berarti sudah ada distorsi rohani dan sejarah terputus.
Rahayu mulyaning jagat
Klungkung Semara Pura, kirang langkung nunas ampura suksme



Comments
Post a Comment