Desa Selulung
Dualitas Religi
Ini menjadi kewajiban untuk melakukan Jnanayadnya (berbagi pengetahuan) atas penelitian saya di Desa Adat Selulung. Untuk itu hasil penelitian saya sudah terbit dlm bentuk buku dan akan di share beberapa bagian. Sudah tentu ada kekurangan untuk itu mohon saran dan masukannya. ,🙏🙏.
Tentang Selulung (bagian 1).
Dalam penelitian tesis Ranem, hasil wawancara dengan Jero Kubayan Mudiar (almarhum) bahwa desa-desa ini mengalami kerusakan akibat tertimpa bencana seperti peperangan dan lain sebagainya. Hancurnya desa-desa itu adalah sebagai berikut:
a. Desa Bunut mengalami kehancuran karena berperang merebut sema (setra) di Bunut dengan Desa Padangluah (Desa Catur sekarang). Desa Bunut memakai topeng untuk menutupi muka, lengkap dengan senjata dan berjaga di Pura Kuta (Dalem Kuta). Oleh karena Desa Bunut tidak taat dengan bhisama Bhatara Pucak Panulisan yaitu tidak boleh memakai tapel atau topeng karena dianggap menyamai ilen-ilen atau bala iringan, maka desa Bunut mengalami kekalahan. Akibat dari kekalahannya itu, Desa Bunut dan seluruh pura serta setra-nya dikuasai. Kemudian terjadi kematian di Desa Padangluah dan mayatnya akan dikuburkan di setra Bunut dengan penyandang jenazah (bade) yang sangat megah. Setelah sampai di setra terjadi perdebatan tentang bade yang megah itu. Ada yang ingin menghancurkan bade yang habis terpakai itu dan ada pula yang ingin membawa bade itu pulang kembali dengan tujuan jika ada yang meninggal agar tidak membuat bade lagi. Akhirnya disepakati dibawa pulang bade itu. Berselang beberapa hari kemudian ada orang meninggal lagi dan diusung dengan bade itu. Begitu selanjutnya bade itu dipergunakan berulangkali setiap ada orang meninggal. Akibat dari bade itu, separo dari penduduk Desa Padangluah meninggal dunia dan akhirnya Desa Padangluah mengalamai kehancuran.
b. Desa Tangguan hancur ketika akan membangun Bale Agung. Dimana pimpinan desa mendapat pawisik bahwa dalam menebang pohon harus ditatab dengan banten. Karena sakeng bodohnya penduduk mengartikan bahwa pohon itu harus disangga dengan tangan (tatab) dengan tujuan kayu bangunan itu tidak menyentuh tanah. Akibat dari itu penduduk Desa Tangguan yang berjumlah 200 kepala keluarga menyangga pohon tersebut dengan tangannya. Banyak penduduk yang meninggal, yang masih hidup sangat sedikit.
c. Desa Pujung dan Desa Tohmega. Desa Pujung dan Desa Tohmega bertetangga dan hidup selalu berdampingan. Desa Pujung dipimpin oleh I Gede Pujung dan Desa Tohmega dipimpin oleh I Gusti Ketut Tohmega. Suatu hari terjadi perselisihan ketika akan membangun pura (Pura Arca sekarang) dan perebutan setra (Sema Sutgambange). Akibat dari perselisihan itu terjadi peperangan dan permusuhan sehingga mengalami kehancuran. Kekalahan desa Tohmega menyebabkan pimpinan Desa Tohmega mengorbankan dirinya sendiri dengan cara nuek raga dengan keris pusakanya.Wagra Desa Tohmega yang masih hidup lari bersembunyi di bawah pohon Mabi (banjar Mabi sekarang). Kemudian warga Desa Pujung pindah setra menuju arah selatan.
d. Desa Tanjungan hancur karena kempur (tambur) yang sangat keramat dipinjamkan ke kerajaan Gel-gel. Berulang kali warga Desa Tanjungan datang ke puri Gel-gel untuk meminta kempur itu tetapi tidak berhasil. Karena seringnya warga yang datang meminta kempur itu akhirnya raja marah dan menumbuk kempur itu hingga pecah. Akibat dari pecahnya kempur itu maka Desa Tanjungan mengalami kehancuran.
e. Desa Petabahan. Penduduk Desa Tanjungan yang masih hidup pindah ke Petabahan. Pada suatu hari ada upacara besar yang disebut Karya Mabiaya. Semua penduduk baik kaya maupun miskin hadir dalam perayaan upacara tersebut. Anak-anak penduduk kaya memakai perhiasan dari mas, perak, permata dan anak-anak dari penduduk miskin memakai perhiasan dari gorengan biji jagung yang diikat dengan benang untuk dipakai kalung pada leher (kalung krutuk jagung) dan perhiasan dari buah Gunggung juga dipakai kalung juga. Anak-anak yang memakai perhiasan mas, perak dan permata merebut kalung krutuk jagung dan kalung gunggung yang dipakai oleh anak-anak miskin untuk dimakan sehingga terjadi perkelahian antara anak kaya dengan anak miskin. Perkelahiannya ini dibela oleh orang tuanya masing-masing dengan mengambil senjata dari alat penusuk daging (sundukan) dan akhirnya terjadi perkelahian antar warga desa (kalebon amuk). Akibatnya semua warga meninggal, hanya satu orang yang hidup karena ketika itu ditugaskan mencari nyahwan (tawon) untuk nyangkepang. Sehingga sampai sekarang pada saat akan mesihyang orang ini dipanggil dengan nama jero desa kelod kauh (orang halus).
Sisa-sisa penduduk yang masih hidup dari desa-desa di atas mengadakan pertemuan dengan para penduduk lainnya dari berbagai klen atau Pasek dengan dipimpin oleh leluhur Mekele Gede Kauhan (keturunan Dukuh Selulung) dan leluhur Mekele Gede Kanginan (keturunan Pasek Taro) serta leluhur Jero Pasek. Dalam pertemuan ini diambil sumpah untuk bersatu sehidup-semati bersama-sama dalam segala bidang sampai dikemudian hari, dengan sumpahnya “salunglung sabayantaka”. Salunglung artinya patahan-patahan desa akibat dari kehancuran dan sebayantaka artinya suka dan duka selalu bersama-sama. Dari kata “salunglung sabayantaka” ini warga menyebut dirinya dengan warga Salunglung, dan lama-kelamaan menyebut dirinya dengan warga Salulung.
Desa Selulung (bagian 2)
Menurut I Dewa Anom Wahyu Hudiyana (part 1).
Pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong (1460-1550) I Gusti Jelantik diutus untuk menengahi pertikaian di wilayah Bali Pegunungan (wilayah Kintamani) dengan iringan I Gusti Ngerembun. Tahun 1509 sampailah I Gusti Jelantik dan iringannya di hutan Mahori, dan meminta Dukuh Selulung dan Dukuh Belantih untuk mengumpulkan seluruh kamelan. Kemudian yang datang hanya 16 kamelan, yaitu melan Wong Aya (Kembang Sari), Taked, Tanjungan, Pujung, Mabi, Suket Linggah, Tangguan, Bunut, Nyawah, Tohmega, Petabahan dan lain-lainnya. Kesepakatan 16 kamelan dengan dipimpin oleh I Gusti Jelantik, Dukuh Selulung dan Dukuh Belantih mengadakan perjanjian saluhung sabayantaka dan akhirnya disebut Salulung. I Gusti Jelantik pergi dari Salulung, I Gusti Ngerembun disuruh tetap tinggal. Kemudian ada bhisama Dukuh Selulung untuk membuat penyungsungan turus lumbung dan ditancapkan oleh beliau, maka disebut Pura Pasek.
Desa Selulung (Bagian 3)
Dalam Penelitian Pardi, mengenai terbentuknya Desa Pakraman Selulung juga diceritakan oleh I Dewa Gede Anom Wahyu Hudiyana (part 2)
“Dahulu kala pada masa pemerintahan Raja Sri Anak Wungsu (Sekitar abad ke-11, tahun 971-999 Caka atau 1049-1077 Masehi). Sebelum Desa Pakraman Selulung terbentuk, daerah ini (wilayah Desa Pakraman Selulung sekarang) dahulunya merupakan kawasan desa-desa yang terbagai menjadi empat karaman, yang masing-masing karaman memiliki wilayahnya masing-masing. Empat Karaman tersebut tergabung menjadi Gebog Satak Sukapura dan berpusat di suatu tempat bernama Kuta/Kutane yaitu tempat menyambut raja atau pesanggrahan raja. Empat Karaman yang tergabung menjadi Gebog Satak Sukapura tersebut antara lain; (1) Sebelah Selatan Kuta (Gerbang Selatan) terdapat karaman Tanggurguran/Tangguan, yang terdiri dari tiga Tani yaitu Tani kamasan, Tani lunjangan, dan Tani Parbunut. (2) Sebelah Barat Kuta (Gerbang barat) terdapat Karaman Padang Luwah, yang terdiri dari Tani Pada Luwah dan Tani Padang Rata. (3) Sebelah Utara Kuta (Gerbang Utara) terdapat Karaman padang dawa, yang terdiri dari Tani Bunut dan Tani Kala Santen. (4) Sebelah Timur Kuta (Gerbang Timur) terdapat Karaman Toh Mega, yang terdiri dari Tani Sikutlinggah dan Tani Pujung.
Keempat karaman tersebut memiliki suatu sistem adat Pakraman yang sama yaitu “Alang Ulu-Apad”. Secara harfiah “ulu” berarti sampai keujung kepala dari pentas persegi empat panjang sebuah rumah panjang (bale lantang) pada sebuah desa ,dan “Apad” berarti (mendaki) tangga (Reuter, 2005:328). Empat Karaman ini tergantung dalam kesatuan alang yang lebih tinggi yang disebut “Gebog Satak Sukapura”. Alang Gebog Satak Sukapura ini juga tergabung dengan tiga gebog satak yang lain membentuk banua yang berpusat di Puncak Penulisan.
Empat karaman ini akhirnya hancur/gerubug sehingga wilayahnya tercerai-berai. Hancurnya keempat karaman ini disebabkan karena ketika pada jaman Raja Jaya Pangus (Abad Ke-13) tahun 1099-1103 Caka di daerah ini (Kuta) pernah diselenggarakan upacara besar yang desebut “Pahoman Raja” dengan sarana upacara berupa “Getih Wadak” (Darah Wadak) dan “Empehan Lembu” (Air susu lembu). Adapun upacara ini bertujuan untuk mem ohon kepada Hyang Dewata (Tuhan) agar istri ke-3 Raja Sri Jaya Pangus (Istri dari Cina bernama Kang Chi Hwe) yang sedang sakit bisa di sembuhkan. Namun permohonan ini tidak berhasil justru istri raja meninggal sehingga mengakibatkan kemurkaan raja, tempat pahoman itu dikutuk tidak boleh ada bangunan (sekarang tempat itu menjadi Pura Dalem Kuta, sebelum direnovasi tahun 2011 daerah tersebut memang tidak ada bangunan berupa pelinggih, yang ada hanya bebaturan/bebatuan saja). Demikian pula empat karaman pendukung pelaksana upacara pahoman itu mengalami bencana atau grubug. (1) Karaman Padang Dawa terkena penyakit gerubug yaitu kena wabah muntaber sehingga penduduknya hampir semuanya meninggal, hanya tinggal dua kepala keluarga (Duang kuren). Satu keluarga di Tani (desa) Bunut dan satu lagi di Tani Kala Santen. (2) Karaman Toh Mega mengalami perang saudara antara Tani Toh Mega dengan Tani Pujungan sehingga warganya hampir habis. (3) Kraman Tanggurguran atau Tangguan terkena sadug (bencana) ketika akan membangun bale lantang. Dimana pimpinan desa mendapat pawisik bahwa dalam menebang pohon harus ditatab dengan banten. Karena salah mengartikan bahwa pohon itu harus disangga dengan tangan (tatab) dengan tujuan kayu bangunan itu tidak menyentuh tanah. Akibatnya penduduk Desa Tangguan yang berjumlah 200 kepala keluarga yang ikut menyangga pohon tersebut dengan tangannya banyak yang meninggal, dan yang masih hidup sangat sedikit. (4) Karaman Padang Luah pergi mengungsi karena kawatir ikut terkena bencana melihat kehancuran karaman-karaman yang lain.
Desa Selulung (bagian 4)
Lebih lanjut diceritakan oleh I Dewa Gede Anom Wahyu Hudyana (part 3)
"Akibat dari bencana yang menimpa karaman-karaman tersebut mengakibatkan empat karaman yang dahulunya memiliki banyak penduduk dan hidup dalam satu kesatuan akhirnya terpecah-pecah menjadi beberapa Mel/Kamelan/Pondok dalam kelompok-kelompok kecil dan hidup tanpa arah tujuan yang jelas. Setelah bencana mulai reda berkumpullah warga yang masih tersisa dari empat karaman sebelumnya di suatu tempat di sebelah Timur laut Gebog Satak Sukapura terdahulu, dan kemudian mendirikan sebuah karaman Patabahan.
Karaman Patabahan ini tidak berumur panjang karena pada saat membangun Bale Agung terjadi pertentangan antar warga mengenai status kepemimpinan karaman. Masalahnya adalah karena Karaman Patabahan baru terbentuk dan tidak memiliki pemimpin seperti umumnya desa-desa yang memakai sitem “Ulu-Apad”, maka dalam menentukan siapakah yang akan menduduki jabatan sebagai Kubayan, Kubahu, Singgukan dan Seke Ebat terjadi pertentangan antar warga. Dari semua pihak menginginkan jabatan yang tertinggi yaitu Jero Bayan, akan tetapi karena terbatasnya jabatan tersebut yaitu hanya boleh di duduki oleh dua orang saja maka hal ini menimbulkan pertentangan dan berlanjut menjadi sebuah peperangan yang sangat besar, yang disebut dengan “Labuhan Amuk”. Sejak saat itu Karaman Patabahan hancur dan warganya hanya tersisi satu orang saja (adiri), hal ini karena pada saat peperangan itu terjadi orang tersebut sedang pergi ke hutan untuk mencari Don Lumasih untuk malang sehingga dia selamat.
Selanjutnya Karaman Patabahan selama berpuluh-puluh tahun bahkan beratus-ratus tahun tidak pernah terdengar lagi atau tidak pernah diceritakan lagi oleh Tuha-Tuha. Selanjutnya pada masa pemerintahan kerajaan Gelgel dengan Raja Dalem Segening (tahun 1580-1665 masehi), Dalem (raja) mengutus seorang patihnya bernama I Gusti Ngurah Jelantik Bogol untuk menata kawasan pengunungan Bali (Bali Aga) yang mengalami kerusakan akibat perang dan bencana. Maka datanglah beliau ke wilayah ini (Desa Pakraman Selulung sekarang). Di wilayah ini, warganya telah tercerai berai menjadi 16 kelompok-kelompok kecil yang disebut “Mel/Kamelan/Pondokan”. Tempat berkumpulnya warga itu bernama “Alas Mehuri” yang dianggap keramat (Sakral) dan disana tinggal seorang dukuh yang bernama Dukuh Selulung, beliau adalah seorang petapa yang mengabdikan pengetahuannya pada masyarakat sekitar. Rumah dukuh itu berbentuk Bale Selulung. Bale yang artinya rumah, Selu atau Salu yang artinya bangunan atau balai, dan Lung atau luwang atau embak yang artinya Pegat, putus, kosong atau lowong. Jadi Bale Selulung adalah rumah yang ditengah-tengah bangunannya Pegat, putus, kosong, lowong atau sebuah bangunan yang dilengkapi sepasang balai yang saling berhadapan dan ditengah-tengahnya kosong, lowong atau putus. Di Bale Selulung inilah 16 pasang perwakilan dari 16 kamelan (kelompok kecil) ini berkumpul atas prakarsa dan mendapat pembinaan dari I Gusti Patih Jelantik Bogol (sekitar tahun 1610 masehi). Ke-16 kamelan itu antara lain kamelan Tanjungan, Wong Aya, Bantang Kedis, Laung, Nyuhan, Tangguhan, Sengambu, Belanga, Pujung, Sikut Linggah, Bunut, Kala Santen, Toh Mega, Daup, Selulung dan Nyawah. Hasil dari pertemuan antara Ki Dukuh Selulung, I Gusti Ngurah Jelantik Bogol dan perwakilan ke-16 kamelan menhasilkan kesepakatan untuk membentuk Desa Pakraman, adapun isi kesepakatan itu antara lain sebagai berikut; (1) Ditetapkan Desa Pakraman yang dibentuk bernama Desa Pakraman Selulung, yang terdiri dari dua ayahan yaitu ayahan kanginan dan ayahan kauhan. Nama Selulung diambil dari Bale tempat pertemuan dan dari pertemuan itu ke-16 kamelan bersumpah untuk sehidup semati dalam suka dan duka (Salunglung Sabayantaka Sakama-Kama Mati Hidup bareng-Baren). Untuk menghormati kesepakatan (pasobean) pembentukan Desa Pakraman Selulung dan ditaati turun temurun, di tempat itu didirikan Turus Lumbung yaitu sebuah Pura sederhana dari pohon dadap yang kemudian berkembang menjadi Pura Pasek. (2) Disepakati bahwa “Alang Desa” (sistem adat) yang dianut tetap Alang Ulu Apad dengan sepasang Tegak (kedudukan atau peduluan tertinggi adalah Kubayan, dengan wakilnya Kubahu dengan tegak setingkat lebih rendah karena itu Kubayan adalah pemimpin tertinggi karma Ulu Apad atau sering disebut Hulubala). (3) Untuk menghormati Hyang Mehu di Alas Mehuri yang dipuja oleh Ki Dukuh Selulung maka didirikan Pura Mehu. Di pura ini sebelum dibangun sudah ada benda-benda sakral seperti, Madya (Punden Berundak), sumur tertutup batu cadas (Puser Tasik) di atas batu ada Sungu (terompet dari keong laut), yang sekarang keadaannya sudah rusak. (4) Disebelah Utara (Teben) Pura Mehu dibangun Bale Agung yang terdiri atas beberapa bangunan utama yang berstruktur khas yaitu berupa Bale Selulung disetiap sisi (4 sisi) Bale ini dibuatkan gerbang (pintu masuk) ke Natar Bale Agung"
Desa Selulung (Bagian 5).
Lebih lanjut dalam penelitian Pardi
Desa Pakraman Selulung juga dijelaskan dalam “Legenda Rajeg Bumi Banten Pulina Bali Nusantara Pari Purna” yang tertulis pada legenda Dr. Goris dengan tema “Sukretaning Jagat” dan Wit Desa Selulung “Asal Muasal Desa Selulung” yang dikarang oleh Jro Sumbu Kasuma Jaya, yang diceritakan sebagai berikut;
"Rsi Markandia Wesnawa mengajak Pasek Bali Mula dan Pasek Berjo asal Jawa untuk melaksanakan pembabatan/perabasan hutan di wilayah hutan Mahori di bawah gunung Panarajon untuk pemukiman dan lahan pertanian. Disetujui satu suara/aklamasi untuk perabasan hutan dilaksanakan. Pertemuan itu disebut seuwak (satu suara atau aklamasi). Jadi, Seuwak adalah kesatuan membuat lahan pertanian, dan mulai saat itu disebut krama subak. Ki Pasek Berjo mendirikan pura ngadegang Ratu Gede Kemulan sebagai kawitan Pasek Berjo dan Pura Mas Pait. Pura tersebut dibangun pada pusat hutan/alas Mahori, dan diemong/disembah Ki Pasek Berjo yang tinggal atau bermukim di padukuhan Mahori. Bertempat di padukuhan Mahori yang dihadiri oleh segenap pepacek Pasek Berjo, pepacek pasek Bali Mula asal wintang Danu Gunung lebah, Rsi Markandya mengukuhkan sukerning jagat ”Sidikara Tunggal Sesana Wangsa Anut Linggih Paras Paros Supornaya, Salung Lunglung Sebayantaka, Sejagat Pulau Banten, Pulau Bali Luwuk Nusantara Paripurna”. Mulai saat itulah padukuhan Mahori di ubah namanya menjadi Desa Kraman Selulung"


Comments
Post a Comment