Garuda Mungkur, Sinar Rohani Sang Pendeta

 


LINTANG TRANGGANA – Keagungan sosok Sang Garuda dalam Mithologi Hindu sepertinya sangat mendunia. Bukan hanya Indonesia yang mengaguminya, Jerman, Amerika , Arab Saudi, Thailand bahkan juga Jepang sepertinya sangat berbangga menempatkan sosok Garuda sebagai ikon Negara masing-masing. Demikian simpulan umum terungkap dalam rembug Kelas Budaya yang digelar Yayasan Bakti Pertiwi Jati (YBPJ) Bali, Kamis (18/6) di kawasan Desa Budaya, Kesiman Kertalangu, Denpasar Timur. 

Sebagaimana gelaran Kelas Budaya sebelumnya, Tema Sang Garuda ini dibabar oleh akademisi ISI Denpasar Dr. Tjokorda Udiyana Nindya Pemayun. Pembicara lainnya Ketua YBPJ Made Pujana , S.Pd , Pembina Yayasan BPJ I Gusti Ngurah Bagus Muditha dan I Komang Gede Subudi.


Situs Garuda Mungkur, Analogi Proses Pediksaan Seorang Sulinggih.

Pernah mengamati “Ketu” seorang Sulinggih ? Tanya Tjokorda Udiyana mengawali paparannya soal Situs Garuda dalam konteks kasulinggihan di Bali. Mengapa sebagian besar Sulinggih (Pendeta Hindu) di Bali bahkan di Indonesia suka menghiasi Ketu (bawa) beliau dengan ornament yang berlambangkan situs burung, khususnya Garuda ? Menurut tokoh rohani asal Puri Payangan tersebut, fakta satu ini tidak terlepas dari kemasyuran kharakter dan siklus kehidupan burung humanoid yang bernama Sang Garuda itu.

Secara alamiah, kata Tjokorda Udiyana, Garuda memiliki siklus kehidupan yang sangat mirip dengan proses Ritual Pedwijatian seorang Sulinggih. Disebut sebagai Sang Dwijati, seorang Sulinggih secara etika ritual Hindu harus melalui proses kelahiran untuk kedua kalinya. Dwijati berarti “lahir untuk kedua kalinya”. Demikian juga jenis burung besar seperti Garuda dalam siklus kehidupannya secara alamiah mengalami perubahan pisik dari tua menjadi muda kembali. Perubahan pisik yang dialami Garuda biasanya setelah burung itu berumur 30 tahun dari sejak kelahirannya.

“Setelah burung Garuda berusia 30 tahun, maka kuku-kukunya terlepas, bulunya-bulunya juga terlepas satu persatu, sehingga dia tidak memiliki kemampuan untuk terbang seperti saat mudanya. Dalam kondisi tubuh yang renta Sang Garuda naik mendaki gunung dengan berjalan tertatih-tatih. Sesampainya di puncak, barulah dia “bertapa” dalam keheningan. Dalam proses “pertapaan” itulah dia seperti terlahir kembali, karena bulu-bulu tuanya telah tumbuh kembali seperti sedia kala. Demikian juga cakarnya yang tajam kembali menampakkan kukuatannya. Sayapnya yang lebar kembali bisa mengepak, sehingga menimbulkan tiupan angin yang kencang, membuat seisi hutan ketakutan. Dia kembali bisa bersuara sangat kencang seperti petir menggelegar. Sang raja burung, julukan yang pantas untuknya, terbang tinggi ke angkasa untuk menunjukkan keperkasaannya di udara. Namun kehidupan kedua Sang Garuda tidak bisa disebut Dwijati, karena dia sendiri hanya memperbarui bagian bagian tubuhnya secara alamiah setelah berumur 30 tahun,” kata Tjokorda Udiyana yang juga aktif menulis buku berbasis Budaya Bali itu.


Siklus kehidupan Sang Garuda yang bisa meremajakan tubuhnya secara alamiah rupanya menjadi sebuah analogi dalam prosesi Ritual Pediksaan seorang Sulinggih Hindu khususnya di Bali. Sebelum seseorang didiksa menjadi Sulinggih (Pendeta), dia harus menjalani proses pembersihan diri secara Rohani dan jasmani. Selanjutnya ada yang disebut dengan proses “aguron-guron” yaitu berguru kepada seorang Sulinggih Nabe yang memiliki level kerohanian yang disebut Dang Guru Loka. Prosesi berguru tersebut di samping dilaksanakan dalam bentuk mempelajari sasana kawikon, belajar Puja Mantra, Etika kasulinggihan, Wariga dan tatanan Sastra Hindu pada umumnya, Sang calon sulinggih juga menjalankan Ritus-ritus terkait dengan proses aguron-guron tersebut. Misalnya: Sang calon diniksa secara berkelanjutan melaksanakan perjalanan suci yang disebut dengan Tirta Yatra sebagai bagian penycian rohani beliau.

Perjalanan Tirta Yatra Sang calon diniksa, sebagaimana perjalanan Sang Garuda melepas satu persatu bulu dan kuku-kukunya, merupakan proses pendakian spiritual yang mesti dilakoninya dengan penuh pengendalian diri menuju kesucian batin yang dipersyaratkan sebagai calon pelayan umat. Setelah perjalanan tirta yatra diselesaikan, barulah selanjutnya Sang Calon Diniksa bersiap-siap untuk melaksanakan proses penobatan beliau sebagai seorang Sulinggih.

Sebelun menjalani ritual Pediksaan, sehari sebelumnya Sang calon diniksa harus mejalani ritual “Amati Raga” yaitu sebuah prosesi mati wadag dan menjalani puasa penuh 24 jam. Ini adalah proses pelepasan ikatan indriya duniawi dan alam material lainnya. Keesokan harinya sebelum matahari terbit Sang calon Diniksa dibangunkan untuk menjalani upacara Penyiraman atau Asuci raga yang biasanya harus dilakukan oleh para Sulinggih senior selain Sulinggih Nabe. Begitu ritual Pediksaan digelar di mana Sang Calon Diniksa ditapak oleh Guru Nabe, maka di situlah sebutan Dwijati bisa disandang oleh Sang Diniksa tersebut. Dalam rentang waktu 42 hari dari subha dewasa pediksaan, Sulinggih tersebut belum serta merta diperkenankan untuk muput yadnya atau istilahnya Ngeloka Pala Seraya.

Kewajiban melanjutkan aguron-guron mesti dilaksanakan oleh sang Sulinggih anyar hingga hari ke 42 tersebut. Saat itulah Sang Sulinggih baru diperkenakan Muput Yadnya dengan melaksanakan semuah ritual yang disebut Ngalinggihang Weda. Dan mulai saat ritual itulah Sang Sulinggih diperkenankan menggunakan mahkota kasulinggihan yang sering distilahkan dengan sebutan “Ketu” atau lebih populer juga disebut “Bhawa”. Dalam ornament Ketu Sulinggih itulah biasa kita jumpai “Situs Garuda Mungkur”; sebuah penghormatan terhadap sosok Sang Garuda sebagai wahana Dewa Wisnu.
Menurut Tjokorda Udiyana, situs Garuda Mungkur yang terdapat pada ornamen Ketu atau Bhawa tersebut bukanlah sosok Sang Garuda sendiri, melainkan ia adalah Aruna – kakak kandung Garuda yang terlahir tidak sempurna. Kendatipun Aruna terlahir tidak sempurna, namun ia memiliki kemasyuran yang sama dengan Garuda. Tubuhnya bersinar cemerlang bagai Sang Surya di pagi hari. Maka tak ayal, akhirnya dia juga mendapat kesempatan sebagai wahana Dewa Surya. Barangkali juga itu logikanya, mengapa seorang Sulinggih itu sering disebut Surya di masyarakat, khususnya di Bali.

Dalam suatu konsep terkait dengan kasulinggihan, disebutkan seorang Sulinggih berhak menyandang predikat “surya” bagi masyarakat Hindu, apabila sudah mampu menjadikan dirinya sebagai Ide Sang Meraga Putus. Beliau seharusnya adalah sosok yang sudah mampu menyadari bahwa diri sejati beliau adalah Atman. Di samping itu, Sulinggih yang sudah meraga putus adalah seorang yang Satya Brata yaitu berpola hidup menyatu dengan Brataning Sang Wiku yakni Panca Yama dsn Panca Niyama Brata sudah menjadi keseharian Beliau.

Dang Adi Guru Loka

Dari sudut pandang yang sedikit berbeda Ketua YBPJ I Made Pujana, mengungkapkan bahwa seorang Sulinggih itu bukan hanya sebagai seorang Pemuput yadnya saja, melainkan juga sebagai Dang Guru Loka yaitu sebagai Guru Rohani masyarakat . Dalam tatanan peradaban tua di Bali, masyarakat merupakan suatu sistem Pakeraman yang dikendalikan oleh Puri atau Sang Prabu (Guru Wisesa) bersama dan bersinergi dengan Sang Patih. Sang Sulinggih berperan sebagai Guru Rohani (Purohita) yang memberikan tuntunan kepada masyarakat (Para) di bawah pengendalian Sang Prabu (Puri) dalam kerangka sistem rohani yang disebut Purana,dengan menempatkan Pura sebagai pemujaan masyarakat,” tegas Guru Pujana.


Sebagai Dang Guru Loka, Sang Sulinggih yang menggunakan “bhawa” yang menyematkan Situs Garuda Mungkur sebagai ornamennya, seharusnya mampu memerankan lakon Sang Surya menyinari dunia, tanpa pilih kasih kepada seluruh umat. “ Beliau harus mampu memerankan lakon Sang Guru yang Guna Tita Rupa Warjita – yaitu memberikan cahaya terang bagi mereka yang masih berada dalam kegelapan hidup,” papar Guru Pujana di akhir pembicaraan. (G. Suta)

Comments