Kelas Budaya Yayasan Bakti Pertiwi Jati, Bahas Tuntas Garuda Sang Pembebas
LINTANG TRANGGANA – Memperingati Hari Lahir Pancasila tanggal 1 Juni , Yayasan Bakti Pertiwi Jati (BPJ) Bali menggelar diskusi yang dikemas dalam agenda Kelas Budaya, Kamis (4/6) di sekretariat BPJ Jalan Ulun Carik, Desa Budaya Kertalangu,Denpasar Timur. Diskusi yang digelar secara internal bagi seluruh komponen Yayasan yang bergerak di bidang Pelestarian Situs dan Ritus Bali dan Nusantara itu,mengangkat tema Garuda Sang Pembebas dalam Perspektif Situs Ritus Bali dan Nusantara. Tampil sebagai narasumber : Dr. Tjokorda Udiyana Nindya Pemayun, akademisi ISI Denpasar. Hadir juga pemerhati budaya Made Sara Yoga Semadi, Andreas M Dewatmoko, Pembina BPJ Turah Bagus Mudhita dan sejumlah anggota BPJ lainnya.

Dalam kisah Mahabharata, epos terkenal India, Garuda lahir dari sebutir telur dan muncul sebagai cahaya yang sangat cemerlang dibandingkan dengan bencana kosmik raksasa yang memusnahkan seluruh dunia pada akhir setiap zaman. Karena ketakutan dengan kekuatan Garuda yang tidak terbatas, para Dewa memohon padanya untuk mengurangi ukuran dan energinya, dan Garuda segera memenuhi permintaan mereka.Legenda mengatakan, Garuda begitu besar sehingga semua orang mengira dia sebagai dewa api, Agni.
Umumnya Garuda digambarkan sebagai makhluk humanoid dengan sayap emas, cakar dan memegang ular di paruhnya. Menurut mitologi Hindu dan Budha, pergerakan sayapnya menimbulkan badai; kecemerlangan bulunya begitu kuat sehingga bahkan menutupi cahaya matahari. Sayap Garuda begitu besar sehingga dapat menjangkau beberapa mil dan mengepakkan sayapnya cukup untuk menciptakan angin seperti badai, yang menggelapkan langit dan menghancurkan rumah-rumah. Dia memiliki kemampuan untuk meningkatkan kekuatannya sebanyak yang dia butuhkan.
Garuda lahir dari orang bijak Kashyapa dan induk burung, Vinata. Kashyapa juga menikah dengan saudari Vinata, Kadru, yang melahirkan seribu ular (nenek moyang semua ular yang hidup di bumi saat ini). Suatu hari, Vinata dan Kadru, bertaruh sepele tentang warna ekor Uchchaihshravas, kuda terbang ilahi berkepala tujuh, yang muncul selama Pengadukan Lautan Susu. Kadru mengklaim ekor kuda itu hitam, sementara Vinata yakin itu putih.Akibat kecurangan Kadru, Vinata kehilangan taruhan dan menjadi budak Kadru, yang diperlakukan dengan sangat buruk olehnya dan putra-putranya yang ular.
Namun, raja burung yang kuat itu tidak takut. Dia mengalahkan mereka semua dan memasuki area tempat amrita disimpan dan dilindungi. Dengan cupu amrita di mulutnya, dia segera menuju ke Nagas yang telah menjaga ibunya di bawah kendali mereka. Dan kemudian, tiba-tiba, dia bertemu dalam perjalanannya, Wisnu, Dewa Agung yang memelihara semua hal, salah satu dewa tertinggi, biasanya digambarkan dengan kulit biru dan empat tangan. Mereka bertukar janji dan Wisnu menjanjikan keabadian Garuda tanpa minum dari cupu amrita. Garuda, pada bagiannya, setuju untuk melayani Wisnu sebagai gunung pribadinya.
Lebih jauh ke depan, Garuda bertemu dengan Indra dan berjanji kepadanya bahwa begitu dia mengantarkan ramuan itu ke Nagas, dia kemudian akan memastikan bahwa Indra segera mendapatkan kembali amrita ilahi. Indra, pada gilirannya, berjanji untuk memberi Garuda ular sebagai makanan.
Sesampainya di tanah Nagas, Garuda meletakkan cupu berisi ramuan di rumput, dan meminta mereka untuk segera membebaskan ibunya, Vinata, dan untuk melakukan beberapa ritual keagamaan yang diperlukan sebelum mengkonsumsi amrita. Ketika para Naga sibuk dengan ritus-ritus mereka, Indra bergegas ke tempat itu dan mengambil periuk bersama amrita. Ketika ular-ular itu kembali, mereka terkejut melihat bahwa ramuan itu lenyap dan hanya tetesan kecilnya yang tersisa di daun ilalang, yang mereka coba jilat. Legenda mengatakan ini membuat lidah mereka terbelah dua.
Pengamat situs dan ritus Bali I Made Sara Yoga Semadi dalam paparannya mengungkapkan situs Garuda pada hakikatnya tak bisa dilepaskan dari Situs Burung. Burung termasuk kelompok unggas memeiliki peranan besar dalam keberadaan Yadnya yang diwujudkan dalam berbagai bentuk Ritus Hindu, yang tercakup dalam PancaYadnya,khususnya di Bali. Dalam upacara Ngaben misalnya, penggunaan binatang sejenis unggas seperti ayam, atau burung merpati, sangat lazim dalam pelaksanaan ritual tersebut. Bahkan burung kaswari, dimanfaatkan dalam Ngaben sebagai pengibes-ibes yang diyakini sebagai pengantar Sang Roh menuju asalnya Sang Hyang Sankan Paraning Dumadi.

Sementara itu, Garuda atau jenis burung besar lainnya, menurut Made Sara Yoga lebih banyak muncul dalam Situs-situs kuno di Bali dibandingkan dengan pemanfaatannya dalam ritual-ritual Hindu. Dalam ritual besar seperti Eka Dasa Rudra, Panca Wali Krama,memang pernah tercatat memanfaatkan anak Garuda dalam pelaksanaannya di Bali,namun ini berlangsung puluhan tahun sekali.
Dalam tatanan Situs tinggalan Leluhur di Bali, situs Sang Garuda sangat popular dalam berbagai ornamen dan hasil pahatan para seniman Bali.Berbagai jenis relief pada candi, Kori Agung, Gedong di berbagai Pura di Bali dapat dipastikan menampilkan sosok Sang Garuda sebagai wahana Dewa Wisnu. Demikian juga di banyak benda-benda sacral umat Hindu di Bali, seperti Arca dan Pecanangan,situs Sang Garuda sangat mendominasi. “Sebagian besar Pecanangan IdeBhatara yang disungsung di Pura-pura di Bali menampilkan wujud Binatang bersayap.” ujar MadeSara Yoga. Fakta tersebut sejatinya tak bisa lepas dari popularitas kepribadian Sang Garuda sebagai pembebas karma-karma manusia dalam kehidupannya di dunia. (G.Suta)



Comments
Post a Comment