Menelisik Pura Puncak Panulisan Yang Disebut Pura Panarajon Atau Pura Kauripan



LINTANG TRANGGANAPura Puncak Penulisan atau dikenal sebagai Pura Tegeh Koripan serta ada juga yang menyebut Pura Pamojan (panah raja) adalah salah satu pura tertua di Bali. Lebih dikenal sebagai Pura Puncak Penulisan sebab pura suci ini terletak di puncak Bukit Penulisan. Pendapat sementara pura ini perkirakan dibangun tahun 300 M (zaman perunggu) kemudian dilanjutkan pada abad ke-10 hingga tahun 1343 M (mendekati masa berakhirnya kekuasaan Majapahit).  Pura ini disebut dengan berbagai nama yaitu Gunung Wangun Urip atau Gunung Kauripan, yang artinya “Pura sumber Kehidupan” atau Gunung sumber kehidupan (Soebandi, 61: 1983). Pura Tegeh Koripan di Bukit Penulisan sering juga disebut“Ukir Padelengan” yang artinya bukit atau gunung tempat memandang (deleng) sumber kehidupan. Di dalam Prasasti Bali Kuno (tanpa tahun), Bukit Penulisan disebut dengan Bukit Tunggal.

Dr WF Sturterheim misalnya, dalam bukunya yang berjudul “Oudheden Van Bali I-II (1929-1930) berkesimpulan bahwa artefak dan benda purbakala yang ditemukan di kompleks pura berasal dari era kerajaan Bali Kuno. Kesimpulan ini didasarkan pada penemuan beberapa prasasti yang berhubungan dengan kehidupan Bali masa itu, yaitu prasasti berangka tahun 999 saka (1077 M) dan tahun 1352 Saka (1436 M). Penemuan arca lelaki dan perempuan yang di bagian belakangnya memuat prasasti sebagai pratista (pelinggih roh suci) Raja Udayana Warmadewa dengan Gunapriyadarmapatni memperkuat simpulan tersebut. Konon, raja ini berkuasa di kerajaan Bali pada tahun 911-933 Saka. Arca lain yang berada di belakangnya, yaitu arca wanita dengan sikap berdiri memuat nama Batari Mandul yang diperkirakan sebagai pratista permaisuri Raja Anak Wungsu yang tak berputra.

Dalam perjalanan Singha Mandawa (804-864 Çaka atu 882-942 Masehi) yang merupakan kerajaan tertua di Bali, sebagaimana diketahui kerajaan Bali kuno memeiliki tiga pura utama yaitu Pura Gunung adalah Pura Tegeh Koripan di Sukawana, Pura Daratan adalah Pura Penataran Sasih di Pejeng, dan Pura Laut adalah Pura Puser Tasik yang ada di Pejeng Gianyar/ Pura Goa Gajah. Prasasti Sukwana (804 C) tertulis mengenai pembebasan pajak dan hak waris bagi para biksu, Prasasti Sukawana ditulis pada waktu sidang pengadilan oleh Sada Çiwa pada bulan magha (Januari) Çuklapaksa (bulan terang) pratipada (tanggal 1) pecan wijaya pura Çaka 804, namun tidak meyebutkan nama raja Singha Mandawa.

Penemuan lain yang mendukung dugaan bahwa pura Puncak Penulisan adalah pura peninggalan Bali kuno adalah penemuan sepasang arca setinggi 92 cm, bermahkota, mengenakan anting berbentuk pilinan rambut. Arca yang ditemukan pada tahun 1922 oleh Tim Peneliti Fakultas Sastra Unud itu memuat prasasti bertahun 933 Saka (1026 M) yang dipahat oleh Mpu Bga Anatah. Ada pula arca wanita berdiri yang terbuat dari batu padas  setinggi 154 cm. Pada bagian belakang sandaran arca terpahat huruf Kadiri Kuadarat bertuliskan Batari Mandul dan angka tahun 999 Saka (1077 M). Prasasti ini dikategorikan masuk pada periode Bali Kuno (abad ke-11).

Sejarawan yang tertarik mengungkap sejarah dibalik keberadaan pura tempat diadakannya upacara “Pengurip Jagad Bali Kabeh”. Upacara ini adalah upacara yang diadakan setiap 700 tahun sekali dengan salah satu ritual utamanya adalah Kebo Roras, yaitu prosesi menanam kerbau sebanyak 12 ekor tepat di tengah-tengah halaman Pura Puncak Penulisan.Upacara ini terakhir digelar pada 22 Oktober hingga 2 November 2010 yang lalu.

Dari struktur tingkatan pura, ada terdapat dua palinggih kecil, Pura Dana dan Pura Taman Dana. Pada tingkat keempat di sebelah timur jalan, ditempatkan Pura Ratu Penyarikan, dan di sebelah barat terdapat pemujaan keluarga Dadya Bujangga. Tingkatan keenam, berdiri Pura Ratu Daha Tua. Adapun tingkatan ketujuh merupakan pucak Pura Tegeh Koripan. Di sini ada palinggih pangaruman, piyasan, serta gedong sebagai tempat menyimpan benda-benda purbakala.

Tim Peneliti Fakultas Sastra Unud tahun 1922 menemukan, arca berpasangan (laki-perempuan) bermahkota karanda makuta dan memakai anting-anting berbentuk pilinan rambut, bertinggi 92 cm. Di bagian bawah ada prasasti bertuliskan angka tahun 933 Saka (1026 M), yang dipahat Mpu Bga pada hari pasar wijaya manggala. Berdasarkan angka tahun yang tertuang pada prasasti serta dikaitkan dengan persamaan unsur badaniahnya, maka peninggalan ini termasuk dalam periode Bali Kuno (abad ke-11). Kemudian ada arca wanita berdiri dengan tinggi 154 cm yang terbuat dari batu padas. Pada bagian belakang sandaran ada terpahat prasasti menggunakan huruf Kadiri Kuadarat. Prasasti tersebut menyebut Batarai Mandul dan angka tahun 999 Saka (1077 M). Langgam serta angka tahun prasasti ini masuk periode Bali Kuno (abad ke-11).

Ada pula arca laki-laki berdiri dengan sikap tangan kanan dijulurkan ke bawah sejajar badan dan tangan kiri ditekuk ke depan. Arca ini oleh peneliti Unud diperkirakan terbuat pada masa Bali Madya (abad ke-13). Di Pucak Panulisan juga tersimpan arca Dewa Ganesa dengan ciri berkepala gajah, berbadan manusia dengan perut buncit, bertangan empat, dan memiliki satu taring. Di belakang kepala Ganesa terpahat hiasan dedaunan. Dari ciri badaniah yang dimiliki, diperkirakan arca Ganesa ini tergolong ke dalam periode Bali Madya (abad ke-13).

Prasasti Sukawana A-1 berangka tahun 804 Saka (882 M) yang telah dibaca arkeolog R Goris pun dinilai tak memberikan kepastian perihal Pura Pucak Panulisan ini. Prasasti ini memang menyebutkan bahwa di Bukit Cintamani (Kintamani) ada bangunan suci bernama Ulan kurang mendapat perhatian dan sering dijadikan tempat persinggahan, peristirahatan anak atar (para pengalu). Bangunan tersebut mendapat perhatian khusus penguasa Bali kala itu, lalu ditugaskanlah Senapati Danda yang dijabat Kumpi Marodaya dibantu beberapa bhiksu, yakni Siwakangcita, Siwanirmmala, dan Siwaprajna membangun kembali tempat suci ini.

prasasti Gunung Penulisan yang menggambarkan kepemerintahannya pada zaman Bali kuno yaitu sebagai berikut.

  1. Prasati Gunung Penulisan 1 berangka tahun caka 933 atau 1011 Masehi terpahat di belakang perwujudan arca perwujudan Raja Dharma Udayana dengan istrinya Çri Ratu Gunapryadharmapatni dengan sikap berdiri.
  2. Prasasti Gunung Penulisan 2 (angka tahunnya sudah rusak/tidak bisa dibaca) dipahatkan dibelakang arca  suami istri dalam sikap duduk. Oleh karena angka tahunnya sudah rusak/rapuh maka sulit menduganya  raja siapa yang diarcakan itu.
  3. Prasasti Gunung Penulisan 3 tahun Çaka 996 atau 1974 Masehi dipahatkan di belakang sepasang  lingga dalam satu yoni masing-masing lingga dikurung oleh suatu bingkai. Adanya lingga bentuk  sederhana itu dan juga beberapa buah lingga lainnya menunjukkan tanda-tanda pemujaam Matahari yangdalam hal ini sebagai Sanghyang Girinatha (Dewa pelindung gunung yang berfungsi memberi kesuburan).
  4. Prasasti Gunung Penulisan 4 tahun caka 1099 atau 1077 Masehi berbunyi “Bhatari Mandul” dipahatkan di belakang arca perwujudan seorang tokoh wanita yang menurut Dr. R Goris wanita ini adalah Premaesuri dari Raja Anak Wungsu yang bernama Bhatari Mandul (raja putri yang tidak berputra)
  5. Prasati gunung Penulisan 5 tahun Çaka 1254 atau 1332 Masehi yang  keadaannya sangat rusak, terpahat di belakang arca perwujudan berbentuk Bhatara Guru dengan tahun yang dibuat secara kronologis. Prasati itu menyebutkan nama Raja Astaratnabumi Banten yang artinya “Delapan Dewa Mustikanya Pulau Bali”. Ini mengandung makna bahwa kemuliaan raja itu bagaikan Dewa Astawasu (kelompok delapan Dewa Yang menjadi pelindung Pulau Bali). Beberapa ahli sejarah Bali kuno bependapat bahwa perwujudan arca itu adalah perwujudan Arca Raja Bali kuno yang terakhir yang dikalahkan oleh Gajah Mada pada tahun 1343 Masehi.

Dalam sebuah prasasti yang bertahun Icaka 971 atau tahun 1049, antara lain disebutkan, yaitu “Anak Wungsu ira kalih Bhatari lumah I Buruan, Bhatar Lumah I Bayu Wka (putra bungsu dari ibu yang telah dicandikan (wafat) di banyu wka (sungai oka)”, menurut Soebandi (1983) mengatakan bunyi kalimat itu dipastikan bahwa yang dimaksud Anak Wungsu itu adalah putra bungsu dari baginda raja suami istri yaitu Gunapriya Dharmapatni/Udayana Warma Dewa  yang bertahta dan memerintah di Bali pada tahun sekitar Icaka 910 sampai dengan 933 atau tahun 988 sampai dengan 1011 M, jadi kurang lebih selama 23 tahun. Untuklebih jelasnya Anak Wungsu ini di dalam Bhuana Tattwa Maha Rsi Markandea diuraikan sebagai berikut.

Pire ta kunang lawas ira Çri Ratu Gunaprya Dharmapatni mwah swamin ira Çri Dharma Udayana Warmadewa angedeg ring Balipulina mewastu Ratu Gunaprya anadang sungkan rahat, hyun agembas aken wijan ira, apansira garbhini. Akweh sahananing maottama sidhi maka aguni wateking sedaka dateng I Jro Agung, hyun anambanis ang kalalar. Apan sampun titahing Hyang Widhi. Sire te Çri Ratu Gunaprya Dharmapatni, angembas aken wija laki-laki, apekik wadanan ira pari purna nging ibun ira matemahan paratra ngungsi Çiwa Loka. Kunang wijan ira embas ingaranan “Anak Wungsu” de sang para jana. Sigra awurahan tang kadatwan tekeng dasa para desa umyang wretan ira ri linan ira sang Ratu Gunaprya Dharmapatni. Ikang wadwa kasungkawan. Apan tininggal dening Ratun ira. Wenten ira wus kabyaya keteka i Javadwipa mandala irika sira Mpu Bharadah, sang pinaka Pandita Pirohita Çri Aji Airlangga i Jawa dateng anglwad ka Bhumi Bali, hyun angatur aken bhaktya ri Ratun ira sang wus muksa……

Arti: Entah sudah beberapa lama Çri Ratu Gunaprya Dharmapatni bersama suaminya Çri Dharma Udayana bertahta di Pulau Bali, maka Ratu Gunaprya Dharmapatni menderita sakit keras dan akan melahirkan putranya, sebab beliau sedang hamil. Banyak para Dukun yang terkenal karena kemanjuran pengobatannya, termasuk juga para Sulinggih (rohaniawan) datang ke Puri Agung dengan maksud dan tujuan mengobati yang sakit tersebut. Oleh karena kehendak dan takdir yang maha kuasa Çri Ratu Gunaprya Dharmapatni melahirkan seorang bayi yang cakap (ganteng) parasnya serta sempurna. Akan tetapi ibunya berakibat wafat dan arwahnya kembali kealam baka disebut putranya yang lahir itu diberikan nama Anak Wungsu. Dalam tempo yang singkat kegaduhan terjadi di istana sampai ke masing-masing desa sudah tersebar berita tentang wafatnya Çri Ratu Gunapryadharmapatni, dan rakyat turut berduka cita karena di tinggalkan oleh ratunya. Kabar ini telah terdengar sampai ke Pulau Jawa, itulah sebabnya Mpu Bhradah sebagai Pandita Purohita (rohaniawan) raja Airlangga dari Jawa datang melayat ke Bali tujuannya untuk menyatakan turut berduka cita terhadap ratu yang telah wafat (Soebandi, 64-65:1983).

Berdsarkan isi dari Bhuwana Tattwa di atas maka dapat disimpulkan bahwa Anak Wungsu adalah putra dari Udayana Warmadewa dan Çri Ratu Gunapryadharmapatni Çri Dharma yang bertahta di Bali (1049-1077 M).

Khusus di Pura Pucak Panulisan ada dua Kubayan, yakni Kubayan Kiwa dan Kubayan Mucuk. Keduanya bertugas mengantarkan bakti krama yang menghaturkan sembah. Jero Kubayan ini memiliki senjata berwujud golok dipergunakan sebagai alat saat ngendag, mulai memotong lis waktu digelar upacara. Saat menghaturkan bakti mempergunakan mantra, dinamakan puja sana. Arca Ida Batara di Pucak Panulisan kini tersimpan di Pura Bale Agung Sukawana, pada Meru Tumpang Lima.

Dalam struktur kemasyarakatan Sukawana, yang disebut ulu apad, kubayan adalah jabatan tertinggi. Di bawahnya ada krama panglanan, naka, nyingguk, dan kabau. Jabatan kubayan dipilih masyarakat dan hanya diganti bila yang bersangkutan sudah punya kumpi (cicit). Bila tak berketurunan, seperi Kubayan Kiwa kini, jabatan kubayan akan dipegang sampai meninggal. Mereka tak punya luputan (dispensasi) khusus, terkecuali saat pamadegan, pelantikan secara niskala, sepenuhnya jadi tanggung jawab warga Desa Sukawana.

Pura Tegeh Koripan mempersatukan daerah-daerah Bali dibawah kerajaan Singgha Mandawa dengan mengikat desa-desa dalam buntuk sistem jaringan yang disebut dengan gebog domas (pangempon Pura Tegeh Koripan) dengan jaringan utama yaitu Gebog Satak  Desa Sukawana, Desa Selulung, Desa Bantang, dan Gobog Satak Desa Kintamani dan masing masing gebog satak ini membawahi desa-desa lainnya yang tersebar di seluruh wilayah kecamatan Kintamani.

Arca ini diusung ke Pura Pucak saban sepuluh tahun sekali, saat digelar upacara pacaruan agung bersaranakan empat kerbau dan seekor kijang. Ida Batara distanakan di pangaruman. Adapun tiap tahun, bertepatan dengan Purnama Kapat, hanya digelar upacara bertingkat alit, sederhana, dengan binatang kurban seekor kijang dan kerbau.

Yang bertanggung jawab terhadap segala kegiatan upacara adalah warga gebug domas. Terbagi atas 200 kepala keluarga (KK) dari Sukawana, Kintamani 200, Selulung 200, dan Desa Bantang 200. Masing-masing anggota gebug domas membawahi beberapa desa yang bila dikumpulkan seluruhnya mencapai 30 desa. Sebagai pamucuk, penanggung jawab inti, tetap krama Desa Sukawana. (5B)

Comments