Menelisik Pura Uluwatu
LINTANG TRANGGANA – Pura uluwatu dibangun oleh Mpu Kuturan atau Mpu Rajakertha atau Senapati Kuturan pada masa pemerintahan udayana pada sekitar abad X. Beliau merupakan salah seorang Rsi yang duduk di dalam lembaga “Pakira-kiran i jro Makabehan” (sejenis lembaga nyang memberikan nasehat pada raja). Berdasarkan lontar Kusuma Dewa, maka diperkirakan telah ada awal abad ke-11 sejak datangnya Resi Kuturan ke Bali.


Namun, ada fakta menarik dari tinggalan historis di Pura Luhur Uluwatu. Tinggalan kuno di pura ini berupa candi kurung atau kori gelung agung yang menjulang megah membatasi areal jaba tengah dengan jeroan pura, diprediksi pura ini sudah ada sejak abad ke-8. Candi kuno itu menatahkan hitungan tahun Isaka dengan candrasangkala gana sawang gana yang berarti tahun Isaka 808 atau sekitar 886 Masehi. Jadi, sebelum datangnya Mpu Kuturan ke Bali. Di sebelah kiri sebelum memasuki candi terdapat pelinggih Dalem Jurit ini dapat ditemukan 3 pelinggih.
Pura Luhur Uluwatu terdiri dari 3 halaman, Halaman Luar (jaba sisi), Halaman Tengah (jaba tengah), dan Halaman Utama (jeroan). Jika dilihat dari atas bentuknya meruncing dari halaman luar sampai halaman utama, halaman luar lebih lebar dari halaman tengah dan halaman utama.
- Luar Areal Jaba Sisi Panjang 13,25 Meter, Lebar : 12,43 meter.
- Luas areal Jaba Tengah Panjang : 35, 54 Meter, Lebar 9,20 meter,
- Luas Areal Jeroan Panjang : 28,30 meter Lebar : 8,10 meter

Secara etimologis kata Ulu berarti ujung, atas, atau puncak, sedang Watu berarti Batu. Jadi Pura Uluwatu diartikan tempat suci yang dibangun di puncak batu karang. Menurut lontar Kusuma Dewa dibuat tahun 1005 Masehi atau tahun Saka 927. Upacara piodalan atau hari besarnya Pura Luhur Uluwatu jatuh pada hari Selasa Kliwon Wuku Medangsia atau setiap 210 hari berdasarkan perhitungan kalender Saka. Pura Luhur Uluwatu juga memiliki beberapa Pura Prasanak atau Jajar Kemiri. Pura Prasanak tersebut antara lain Pura Parerepan di Desa Pecatu, Pura Dalem Kulat, Pura Karang Boma, Pura Dalem Selonding, Pura Pangeleburan, Pura Batu Metandal dan Pura Goa Tengah. Pura Prasanak ini merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan dengan Pura Luhur Uluwatu. Pura Prasanak tersebut berada dalam radius sekitar lima kilometer Pura Luhur Uluwatu.

Pintu masuk di Pura Luhur Uluwatu menggunakan Candi Paduraksa yang bersayap. Candi tersebut sama dengan candi masuk di Pura Sakenan di Pulau Serangan daerah Denpasar Selatan. Di candi Pura Sakenan tersebut terdapat Candra Sangkala dalam bentuk “Resi Apit Lawang” yaitu dua orang pandita berada di sebelah pintu masuk, Candra Sangkala ini memiliki arti/nilai “Rsi=7, Apit=2, Lawang=9”. Hal ini menunjukkan angka tahun yaitu 927 Saka, ternyata tahun yang disebutkan dalam Lontar Kusuma Dewa sangat tepat. Jika dilihat dari arsitektur dan bahan yang digunakan kori agung di Pura Uluwatu memiliki kesamaan dengan Pura Dalem Sakenan, tinggalan arkeologi yang terdapat di Pulau Serangan. Candi kurung menggunakan bahan batu karang. (5B)



Comments
Post a Comment