Virus Corona, Virus Flu Babi dan Yang Lainnya, di Bali Disebut Sasab Merana
LINTANG TRANGGANA – Virus Corona, Virus Babi dan sebagainya, di dalam dasar tattwa leluhur dibali adalah sasab merana. Dimana gejala baik itu di tumbuh-tumbuhanan, binatang dan terhadap manusia sekalipun yang mengakibatkan berdampak kematian, dinamakan sasab merana alias secara umum disebut gerubug. Leluhur dibali sudah mempelajari, mengkaji, memahami dan memberikan jalan keluar, lewat lontar-lontar yang diwarisi dibali. Salah satunya lahir sebuah ritus tawuring sasih ke 6 dan 9. Konsep tawur ini adalah dengan melakukan melaksanakan penawuran kepada Pertiwi (tawuring sasih) sbg sumber segala hal yg berkaitan kepada kelangsungan hidup seluruh alam semesta agar keseimbang muncul secara sekala dan niskala.
Pertiwi juga sebagai sumber dari segala penyakit, bencana. Tawur ini biasanya dilakukan ditempat yg strategis secara rohani yaitu di catus pata, bukan dilapangan atau tempat terbuka lainnya. dikarenakan catus pata adalah titik sentrum rohani dibali, dari ritus ngulapin, pengabenan termasuk juga penawuran ini. Tawur ini utamanya dilakukan oleh lembaga-lembaga rohani dibali yaitu puri dan griya sebagai yajamana, karena puri dan griya sebagai hulu lembaga rohani dibali. Puri sebagai anyakrewerti (tedung jagat) dan bertanggung jawab berkewajiban membangun prakertaning jagat. Griya menciptakan serta mempola gumi dan desa sebagai otoritas memegang rohani kayangan dalem setra (dalem cungkub atau dalem tungkub) dimana dalem sebagai ulun desa, ulun seme, ulun alas, ulun jurang dan pangkung, berkewenangan anyuksamaning pati yaitu karang seme (kuburan) pati kelawan urip.
Peran pemerintah didalm hal ini, sebagai penyokong kegiatan, fasilisator sebagai petugas negara RI dan mestinya menyadari akan kewenangan didalam administrasi negara, tidak mengambil alih tugas fungsi rohani dibali yang sudah dilakukan diwarisi dari ratusan mungkin ribuan tahun yang lalu dibali. Hanya lembaga rohani ini yang mampu melaksanakannya tertuang didalam manuskrip tua/lontar warisan leluhur bali asli, bukan dari luar. Munculnya sebuah sasab merana dikarenakan oleh Ida betara ring dalem, tertuang didalam manuskrip tua dibali/lontar, dimana saat jika manusia sudah tidak mampu memelihara bumi ini agar tetap seimbang, akan diberikan merana oleh ida betara ring dalem agar manusia tidak lupa dan selalu ingat akan kewajiban memelihara alam lingkungan, menjaga ketengetan kesucian alam tersebut. Saat proses ritus penawuran tersebut dilakukan, yang paling penting dan utama adalah, seluruh pelawatan Ida Betara yang disungsung oleh seluruh krama/warga, puri dan griya ditedunkan nyaksi proses ritus tersebut, khususnya ida betara ring dalem dan setelah itu, ngintar desa dan gumi diwilayah masing-masing yang disebut napak pertiwi. Keyakinan ini dilakukan agar harapannya pertiwi secara sekala dan niskala kembali seimbang. Sang Sulinggih sebagai meraga pertiwi jati dengan perangkat yang dimilikinya, wajib menjalankan tugas agar jagat kembali gemah ripah lohjinawi tentrem kerta raharja. Ritus ini dilakukan dengan tingkatan upacara disetiap wilayah manut dresta desa kalapatra setempat. (5B)



Comments
Post a Comment